<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yuk Ree-leks sesaat dari kesibukan kita</title>
	<atom:link href="http://reeleks.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://reeleks.wordpress.com</link>
	<description>Blog berisi cerita cerita pendek yang mungkin berguna untuk pembaca</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Oct 2011 02:18:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='reeleks.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yuk Ree-leks sesaat dari kesibukan kita</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://reeleks.wordpress.com/osd.xml" title="Yuk Ree-leks sesaat dari kesibukan kita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://reeleks.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Maafkan Salahku, Ibu</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/maafkan-salahku-ibu/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/maafkan-salahku-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 05:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Salah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa  kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1128&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa  kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.</p>
<p>Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.</p>
<p>Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, &#8220;Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu&#8221;.<br />
Saya pun menjawab &#8220;Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya&#8221;</p>
<p>Dokter itu menjawab &#8220;Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang harganya berapa dok?&#8221; Tanya saya.</p>
<p>Dokter itu dengan mantap menjawab &#8220;Dua belas juta rupiah sekali suntik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?&#8221;</p>
<p>Dokter itu menjawab, &#8220;Sehari tiga kali suntik pak Jamil.&#8221;</p>
<p>Setelah menarik napas panjang saya berkata, &#8220;Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?&#8221; Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, &#8220;Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, Ppak.&#8221; jawab dokter.</p>
<p>Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, &#8220;Ya Allah Ya Tuhanku&#8230; aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku&#8230; gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.&#8221;</p>
<p>Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.</p>
<p>Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, &#8220;Pokoknya yang ngambil uangku kualat&#8230; yang ngambil uangku kualat&#8230;&#8221; Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.</p>
<p>Usai berdoa saya merenung, &#8220;Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.&#8221;</p>
<p>Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya &#8220;Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,&#8221; jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.</p>
<p>Sambil terbata saya berkata, &#8220;Ibu, maafkan saya&#8230; yang ngambil uang itu saya, bu&#8230; saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf&#8230; saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.&#8221; Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: &#8220;Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.&#8221; Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.</p>
<p>Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata &#8220;Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.&#8221; Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. &#8220;Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.&#8221;</p>
<p>Saya meninggalkan ruangan dokter itu&#8230;. dengan berbisik pada diri sendiri &#8220;Ibu, I miss you so much.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1128&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/maafkan-salahku-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>8 Hadiah Terindah</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/8-hadiah-terindah/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/8-hadiah-terindah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 05:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Good Reading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1125</guid>
		<description><![CDATA[1.Kehadiran Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, atau faks. Namun dengan berada di sampingnya, dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran sebagai pembawa kebahagiaan. 2.Mendengar Sedikit orang yang mampu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1125&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.Kehadiran<br />
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai  harganya. Memang bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, atau faks.  Namun dengan berada di sampingnya, dapat berbagi perasaan, perhatian,  dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian,  kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran sebagai pembawa  kebahagiaan.</p>
<p>2.Mendengar<br />
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang  lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan, sudah lama diketahui  bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan  saling mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala  ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan  kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan dalam  keadaan betul-betul relaxs dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan.  Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi.  Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan memberikan tanggapan yang  tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar  ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.</p>
<p>3.Diam<br />
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai  untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari  segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang  karena memberinya &#8220;ruang&#8221;. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa  gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.</p>
<p>4.Kebebasan<br />
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki  atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku  mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya ? Memberi kebebasan  adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah &#8220;Kau bebas  berbuat semaumu&#8221;. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah  memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal  yang ia putuskan atau lakukan.</p>
<p>5.Keindahan<br />
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih  ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho.  Bahkan tak salah jika mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan  penampilan pribadi.</p>
<p>6.Tanggapan Positif<br />
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran,  sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada  yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini,  coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus.  Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan  terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat  pula, pernahkah memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian  (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.</p>
<p>7.Kesediaan Mengalah<br />
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai  menjadi cekcok yang hebat. Semestinya pertimbangkan, apa iya sebuah  hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan  itu? Bila memikirkan hal ini, berarti siap memberikan kado &#8220;kesediaan  mengalah&#8221;. Okelah, mungkin kesal atau marah karena telat datang memenuhi  janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu  pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat  melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada  manusia yang sempurna di dunia ini.</p>
<p>8.Senyuman<br />
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman,  terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang  beku, pemberi semangat dalam keputus-asaan, pencerah suasana muram,  bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan syarat  untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali  kita menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1125&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2011/01/27/8-hadiah-terindah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan yang Diulang</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/kebiasaan-yang-diulang/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/kebiasaan-yang-diulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 03:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[keahlian]]></category>
		<category><![CDATA[memanah]]></category>
		<category><![CDATA[minyak]]></category>
		<category><![CDATA[panah]]></category>
		<category><![CDATA[panglima]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[tukang minyak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Di Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah. Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1122&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Di Tiongkok pada zaman dahulu kala,  hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian  memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin  memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan  kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah  anak panah.</div>
<p>Setelah semuanya siap,  kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri,  lengkap dengan perangkat memanah di tangannya.</p>
<p>Panglima  mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah  sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang  melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak  panah tepat mengenai sasaran.</p>
<p>Dengan wajah  berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, &#8220;Rakyatku, lihatlah  panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya.  Bagaimana pendapat kalian?&#8221;</p>
<p>Di antara kata-kata pujian yang diucapkan  oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk,  &#8220;Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari  kebiasaan yang terlatih.&#8221;</p>
<p>Sontak panglima dan seluruh yang hadir  memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan  orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, &#8220;Tunggu sebentar!&#8221;  Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok  kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut  botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak  mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas  melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi  penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan  koin tersebut!</p>
<p>Panglima dan rakyat tercengang. Merela  bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak.  Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan  menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, &#8220;Itu  hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan  yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1122&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/kebiasaan-yang-diulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Kehidupan</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/nilai-kehidupan/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/nilai-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 03:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik. Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1119&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah,  hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya.  Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati  kesehariannya dengan baik.</p>
<p>Pada suatu ketika, si pemuda merasa  jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya  hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap  nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda  itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.</p>
<p>&#8220;Daripada  tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku  mengakhiri saja kehidupan ini,&#8221; katanya dalam hati. Disiapkannya seutas  tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.</p>
<p>Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti  itu, tiba-tiba menyela lembut. &#8220;Anak muda yang tampan dan baik hati,  tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini.  Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang  hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di  sekitar sini.&#8221;</p>
<p>Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi  melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat  bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, &#8220;Hai anak muda.  Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh  begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri,  silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah  bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.&#8221;</p>
<p>Sekali  lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon  yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, &#8220;Anak muda, karena  rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk  sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan  mati di sini.&#8221;</p>
<p>Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda  termenung dan berpikir, &#8220;Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai  kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak  terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat  bagi makhluk lain&#8221;.</p>
<p>Segera timbul kesadaran baru. &#8220;Aku manusia;  masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku  sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja  dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain&#8221;.</p>
<p>Si  pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1119&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/nilai-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keseimbangan Hidup</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/keseimbangan-hidup/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/keseimbangan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 03:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[seimbang]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1116&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Dikisahkan, suatu hari ada seorang  anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak  bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi  mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan  keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli  kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu  untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya  sendiri.</div>
<p>Hingga suatu hari, karena  ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi  perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat  melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.</p>
<p>&#8220;Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus  Bapak selesaikan,&#8221; seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda  menghampiri dan bertanya, &#8220;Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman  yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat  keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?&#8221;</p>
<p>Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan  yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, &#8220;Anak muda, mau lihat  keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil  berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu  kembalilah kemari&#8221;.</p>
<p>Dengan sedikit heran, namun senang hati,  diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega  karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, &#8220;Anak  muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung  kesayanganku?&#8221;</p>
<p>Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab,  &#8220;Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada  mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.&#8221;</p>
<p>Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum  dia berkata, &#8220;Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.&#8221;  tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak  mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di  dalam mangkok yang hampir habis.<br />
Menyadari lirikan si bapak ke arah  mangkoknya, si pemuda berkata, &#8220;Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya  rumah Bapak, susunya tumpah semua&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hahaha! Anak muda.  Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka  rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di  matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus  seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini  juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan  keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya.  Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita  akan harmonis&#8221;.</p>
<p>Seketika itu si pemuda tersenyum gembira,  &#8220;Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban  kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang  menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1116&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/05/10/keseimbangan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aborsi &#8211; Teriakan Sang Bayi</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/aborsi-teriakan-sang-bayi/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/aborsi-teriakan-sang-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:43:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Mama sayang, Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri mungil mu. Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1114&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mama sayang,</p>
<p>Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri mungil mu.</p>
<p>Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol. Aku cantik seturut perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan tempatku.</p>
<p>Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur. Bahkan sejak hari-hari pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.</p>
<p>Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu.</p>
<p>Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis.</p>
<p>Aku dengar Papa memaki balik.</p>
<p>Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali.</p>
<p>Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis.</p>
<p>Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari.</p>
<p>Pilu hatiku karenanya.</p>
<p>Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu berduka.</p>
<p>Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi.</p>
<p>Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada.</p>
<p>Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong. Mungkin engkau tak pernah mendengarku&#8230;&#8230;..</p>
<p>Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak, &#8220;Mama, Mama, tolong aku&#8230;.., Mama&#8230;&#8230;tolong aku.&#8221;</p>
<p>Suatu teror yang ngeri aku rasakan. Aku berteriak dan berteriak&#8230;&#8230;.hingga tak sanggup lagi. Lalu monster itu mulai mencabik lenganku. Sungguh<br />
sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata. Monster itu tidak berhenti. Oh&#8230;.bagaimana aku harus mohon agar ia<br />
berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia mencabik putus kakiku.</p>
<p>Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat.</p>
<p>Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku.</p>
<p>Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.</p>
<p>Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmu bahagia, Mama&#8230;.Tapi aku tak dapat.</p>
<p>Mimpi-mimpiku musnah sudah.</p>
<p>Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya. Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.</p>
<p>Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan. Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku. Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti.</p>
<p>Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya; aku mati.</p>
<p>Aku merasa diriku terangkat, seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah. Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah. Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan-Nya. Tuhan mengatakan bahwa Ia  mencintaiku.</p>
<p>Lalu, aku merasa bahagia. Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku.</p>
<p>Jawab-Nya, &#8220;Aborsi, Aku menyesal anak-Ku; karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya.&#8221;</p>
<p>Aku tidak tahu apa itu aborsi; Aku pikir mungkin nama monster itu.</p>
<p>Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu&#8230;&#8230;dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.</p>
<p>Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup&#8230;&#8230;! Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu; monster itu terlalu kuat&#8230;Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku&#8230;.. Tak mungkin bagiku untuk hidup. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu. Aku tidak mau mati! Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu. Mama aku  mengasihimu&#8230;.. Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.</p>
<p>Berhati-hatilah,</p>
<p>Peluk cium,<br />
Bayi Perempuanmu&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1114&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/aborsi-teriakan-sang-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Garis Tangan</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/garis-tangan/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/garis-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[garis]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[konglomerat]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1112</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali, di Taiwan ada seorg konglomerat dan pengusaha kaya. Hebatnya, kekayaan itu mnrt byk pihak diperoleh benar2 dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi byk org. Suatu ketika, krn penasaran, ada seorg pemuda ingin belajar menimba pengalaman dari sang pengusaha. Stlh mencoba bbrp kali, akhirnya sang pemuda bhasil menemui si pengusaha sukses. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1112&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu kali, di Taiwan ada seorg konglomerat dan pengusaha kaya.  Hebatnya, kekayaan itu mnrt byk pihak diperoleh benar2 dari nol. Karena  itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi byk org.</p>
<p>Suatu ketika, krn penasaran, ada seorg pemuda ingin belajar menimba  pengalaman dari sang pengusaha. Stlh mencoba bbrp kali, akhirnya sang  pemuda bhasil menemui si pengusaha sukses.</p>
<p>“Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sgt ingin  menimba pengalaman dari Bapak shingga bs sukses sperti Bapak,” ujar  pemuda itu.</p>
<p>Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tsenyum sejenak. Kmdn, ia pun  meminta anak muda td menengadahkan tgnnya. Si pemuda pun terheran2.  Namun, lantas si pengusahapun mjelaskan maksudnya. “Biar aku lihat garis  tanganmu. Dan, simaklah baik2 apa pdapatku ttgmu sblm aku mberikan  pelajaran sperti yg kamu minta,” jwb pengusaha tsb. Stlh menengadahkan  kedua tgnnya, si pengusaha pun bkata, “Lihatlah telapak tgnmu ini. Di  sini ada bbrp garis utama yg menentukan nasib. Di sana ada garis  khidupan. Kmdn, di sini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh. Skrg,  menggenggamlah. Di mana semua garis td?”</p>
<p>“Di dlm telapak tgn yg saya genggam.” Jwb si pemuda yg pnasaran.</p>
<p>“Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bhw apapun takdir dan  keadaanmu kelak, semua itu ada dlm genggamanmu sendiri. Kamu lihat bkn?  Bhw semua garis tadi ada di tgnmu. Dan, begitulah rahasia suksesku slm  ini. Aku berjuang dan berusaha dgn berbagai cara utk menentukan nasibku  sendiri,” terang si pengusaha. “Tetapi coba lihat pula genggamanmu.  Bknkah msh ada garis yg tdk ikut tergenggam? Sisa garis itulah yg brada  di luar kendalimu. Krn di sanalah letak kekuatan spiritual dari Sang  Maha Pencipta yg kita dimana kita tdk dpt mendapatkan itu tanpa Tuhan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1112&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/garis-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup Untuk Memberi</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/hidup-untuk-memberi/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/hidup-untuk-memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 07:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Good Reading]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[nasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta. Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1108&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.</p>
<p>Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.</p>
<p>Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang  membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan  bungkusannya, apakah dia berjualan?<br />
Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??</p>
<p>untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, boleh kakak bertanya? Silakan Kak. Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang Koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan Pak Polisi, itu apa&#8230;? Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memang kenapa Kak!, dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya. Oh… tidak!, Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah lama kenal dengan mereka?</p>
<p>Lalu, adik kecil itu mulai bercerita, Dulu! Aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasihan banyak orang, dan seperti Kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.</p>
<p>Maka dari itu, Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup,  kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.</p>
<p>Yang ibuku slalu katakan ”hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbuatan baik kita, kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.</p>
<p>Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, ”Apa yang kita bawa?”. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati, saat itu juga aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu.</p>
<p>Yah… Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepadaMu. Hanya kasih yang sempurna serta iman dan pengaharapan kepada-Mulah yang dapat mengiringku masuk ke surga. &#8220;Terimah kasih adik kecil, kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku&#8230;</p>
<p>Kasih itu panjang sabar, kasih itu penyayang, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah, tidak membenci dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, kasih itu selamanya, tidak berkesudahan</p>
<p>Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang, Semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1108&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/22/hidup-untuk-memberi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuda Berkacamata Hitam</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/kuda-berkacamata-hitam/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/kuda-berkacamata-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 04:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Good Reading]]></category>
		<category><![CDATA[gagah]]></category>
		<category><![CDATA[kuda]]></category>
		<category><![CDATA[lari]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1106</guid>
		<description><![CDATA[Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan yang lain memberikan gelar “Kuda Perkasa” padanya. Disingkat “kuper”, hehehe. Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh binatang lain. Tabiat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1106&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia  pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan  yang lain memberikan gelar “Kuda Perkasa” padanya. Disingkat “kuper”,  hehehe.</p>
<p>Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa  dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh binatang lain.  Tabiat buruknya yang lain adalah selalu ingin dipuja. Itu sebabnya ia  iri 1/2 mati terhadap Horas.</p>
<p>Ya, Horas adalah kuda gemuk yang cenderung pendiam. Walaupun begitu,  penghuni hutan lainnya senang kepadanya karena ia suka menolong dan  ramah. Berbeda 180 derajat dengan Kaku.</p>
<p>Suatu hari Kaku pun mendatangi Horas yang  sedang makan rumput di pinggir sungai.</p>
<p>“Hei Horas, ayo kita berlomba mengelilingi bukit timur itu”, tantang  Kaku tanpa berbasa-basi. “Aku ingin tahu, siapa diantara kita yang  paling hebat”.</p>
<p>Horas menoleh dengan santai ke arah Kaku.</p>
<p>“Buat apa ah”, jawabnya, “Kan sudah jelas, kamulah kuda paling hebat  di hutan ini. Aku jelas gak mungkin menang melawanmu.”</p>
<p>“Tidak peduli!”, tukas Kaku. Kasar. “Pokoknya aku ingin kita  bertanding. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah kayu milik Bu Beri  Berang-berang yang kamu buat untuknya bulan lalu.”</p>
<p>Horas tertegun. Ingatannya melayang ke Bu Beri. Badannya yang sudah  tua. Bulu-bulunya yang mulai memutih. Tongkat penyangga jalannya.</p>
<p>“Baiklah”, ujarnya sambil mengangguk lirih. “Kapan kita bertanding?”</p>
<p>Kaku menjawab sambil tersenyum sinis, “Besok sore.”</p>
<p>Malamnya Kaku mulai membayangkan dirinya yang tengah berlari di bukit  timur dengan gagah. Bulunya yang hitam berkilauan terkena cahaya  matahari sunset. Kakinya yang kokoh menapak mantap di atas tanah bukit  timur yang berbatuan menimbulkan suara yang keras.</p>
<p>Ketepok. Ketepok. Ketepok.</p>
<p>Mendadak ia terkikik. Ia membayangkan Horas yang gemuk berlari dengan  terengah-engah menaiki bukit dan akhirnya tersungkur kecapekan.</p>
<p>“Kemenangan sudah jelas ada di tanganku.”, batin Kaku. “Apabila aku  menang, penduduk hutan akan makin menyadari bahwa aku lah kuda terhebat  di sini. Popularitasku pasti akan jauh melebihi Horas. Sekarang aku  harus cari cara agar aku tampak keren di hadapan mereka saat masuk ke  garis finish.”</p>
<p>Ia berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada majalah mingguan “Kueren”  yang ia beli minggu lalu. Kaku pun mengambil majalah tersebut dari  laci  lemarinya dan mulai membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya…</p>
<p>“Ini dia!!!”, teriak Kaku sambil menunjukkan <del datetime="2007-09-12T10:17:17+00:00"></del>tangannya ke sebuah  iklan tentang kacamata hitam. “Dengan ini aku pasti akan tambah cool di  depan warga hutan”.</p>
<p>Keesokan harinya, Kaku menyempatkan diri untuk pergi ke mall dan  membeli kacamata hitam yang paling mentereng. Setelah bersiap dengan  menggunakan tapal kudanya yang berbalut emas, ia pun bergegas menuju ke  bukit timur, tempat ia akan bertanding dengan Horas.</p>
<p>Sesampainya di sana, tampak Horas sedang berbincang riang dengan  teman-temannya. Ada Kuri si Kura-Kura, Nur si burung Nuri, dan bu Beri  Berang-Berang. Warga hutan lainnya pun berjejer di sepanjang jalur,  bersiap untuk menyaksikan lomba antara Horas dan Kaku.</p>
<p>“Ayo segera kita mulai”, kata Kaku sembari memakai kacamata hitamnya  yang baru.</p>
<p>Horas memandang Kaku dengan wajah aneh. Perhatiannya tertuju pada  kacamata hitam Kaku dan label harganya yang entah sengaja atau tidak,  lupa dicopotnya.</p>
<p>Namun Horas tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, ia meminta Nur untuk  membantu memasangkan kacamata kudanya yang sudah agak butut.</p>
<p>Kedua kuda itu pun bersiap di garis Start. Pak Hori Harimau yang  bertugas sebagai penjaga garis melambai-lambaikan bendera putih di depan  mereka. Dalam hitungan ketiga, ia menurunkan bendera dengan bersemangat  sambil berteriak lantang, “Mulai!!!”</p>
<p>Kaku langsung melesat. Julukannya sebagai “Kuda Perkasa” memang bukan  main-main. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak tampak di balik bukit.  Sebaliknya, Horas melaju dengan sambil menjaga kecepatan dan staminanya.  Ia sadari bahwa dalam urusan keduanya, ia bukan tandingan Kaku, oleh  karena itu ia harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah.</p>
<p>Kaku yang jauh memimpin di depan tertawa lebar-lebar sambil terus  memacu kecepatannya. Ia sudah tidak kuasa lagi membayangkan  kemenangannya. Di hadapannya sudah tampak Bukit Curam, bukit terakhir  dari deretan Bukit Timur.</p>
<p>Bukit Curam terkenal sebagai bukit paling berbahaya di daerah itu.  Berbatu dan memiliki sudut tanjakan yang sempit. Siapa saja yang tidak  berhati-hati pasti akan celaka. Di sisi lain, pemandangan dari atas  Bukit Curam cukup indah. Dari sana terlihat jelas pemandangan hutan  serta danau Leka yang luas dan banyak ikannya. Warga hutan sering  berkumpul di danau tersebut, baik untuk mandi maupun sekedar untuk  bersantai dan bersosialisasi.</p>
<p>Beberapa langkah menuruni Bukit Curam, perhatian Kaku terpecah. Di  bawah, tampak Kutik, kuda betina yang jadi incarannya sejak masa sekolah  dulu, sedang mematut-matut tubuhnya di hamparan air danau yang jernih.  Tidak lagi konsentrasi terhadap jalan di depannya, kaki kanan Kaku tanpa  sengaja menabrak sebuah batu yang cukup besar.</p>
<p>Kaku oleng. Ia terjungkal dan menggelinding ke sisi kiri bukit  sebelum akhirnya mencapai garis finish barunya di sebuah kubangan tepat  di samping Kutik yang melongo melihat adegan akrobat gratis.</p>
<p>Byurrrrr.</p>
<p>Sejurus kemudian, Kutik tertawa terbahak-bahak<acronym title="Rolling On The Grass Laughing Out Loud"></acronym>. Tanpa  mempedulikan Kaku yang kesakitan setelah terguling-guling di bukit  berbatu. Tanpa mempedulikan wajah Kaku yang merah padam. Tanpa  mempedulikan kacamata hitam Kaku yang patah. Tanpa mempedulikan perasaan  Kaku yang bingung antara menahan sakit dengan menahan malu.</p>
<p>Saat ia mencoba untuk berdiri (dengan diiringi tawa Kutik yang masih  berkesinambungan), terdengar sorak sorai warga hutan. Rupanya Horas  telah tiba di garis finish. Agak terengah-engah, tapi setidaknya ia  sampai ke tujuan dengan berlari, bukan dengan menggelinding.</p>
<p>Dari kejauhan, ia menatap Kaku (yang masih mencoba berdiri) dan Kutik  (yang masih terus tertawa). Horas juga suka pada Kutik dan ia mungkin  akan melakukan kesalahan yang sama seperti Kaku seandainya ia tidak  menggunakan kacamata kudanya. Ya, kacamata itulah yang membantunya untuk  tetap berkonsentrasi sepanjang lomba.</p>
<p>Horas mengangkat kaki kanannya, ingin berjalan ke arah Kaku. Tapi  kawan-kawan dan penghuni hutan lainnya mulai mengerubunginya, sibuk  memberinya selamat dan memintanya bercerita tentang perasaannya.  Akhirnya Horas pun membatalkan niatnya untuk membantu Kaku.</p>
<p>“Semoga ia baik-baik saja”, gumamnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1106&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/kuda-berkacamata-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pilih Ikan atau Kail</title>
		<link>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/pilih-ikan-atau-kail/</link>
		<comments>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/pilih-ikan-atau-kail/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 04:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reeleks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[beruang]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[kail]]></category>
		<category><![CDATA[kancil]]></category>
		<category><![CDATA[kura kura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reeleks.wordpress.com/?p=1103</guid>
		<description><![CDATA[“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si kancil. “Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.” Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1103&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si  kancil.</p>
<p>“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua  tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”</p>
<p>Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup  nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak  ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari.  Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang  berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada  mati kekeringan.</p>
<p>“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri  Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”</p>
<p>BRAKKKK!!!!</p>
<p>Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja  menjatuhkan kursi tersebut.</p>
<p>“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.</p>
<p>“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara  ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”</p>
<p>“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya.  “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat  ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal  diberi deh.”</p>
<p>“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga  pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil  membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta  diajari cara memancing ikan saja.”</p>
<p>“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka.  “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta  langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”</p>
<p>Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.</p>
<p>“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri  mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”</p>
<p>Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai  di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa  hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini  pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri  berpindah tangan.</p>
<p>Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung  kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri  sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.</p>
<p>“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung  Kuri.</p>
<p>“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.</p>
<p>“Loh kok…”</p>
<p>“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau  ikannya hasil pancinganku sendiri”.</p>
<p>Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik  kemudian ia tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana?  Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”,  kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini  kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”</p>
<p>Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.</p>
<p>“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku  akan bisa”.</p>
<p>Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak  Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat  pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah  benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan  pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat  dan kokoh.</p>
<p>Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak  Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil  tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak  permintaannya.</p>
<p>“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan  pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan  dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”</p>
<p>Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.</p>
<p>“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa  membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”</p>
<p>“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”</p>
<p>Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik  memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat  yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari  kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk  dapat menaklukkan hati pak Beri.</p>
<p>Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan  ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling  di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat  menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena  tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil  tangkapannya pada Kaka.</p>
<p>“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita  berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun  kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”</p>
<p>Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reeleks.wordpress.com/1103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reeleks.wordpress.com/1103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reeleks.wordpress.com&amp;blog=9822312&amp;post=1103&amp;subd=reeleks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reeleks.wordpress.com/2010/03/12/pilih-ikan-atau-kail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a99ace7c2c85709a32346f4cce5d33f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">reeleks</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
